Label

Minggu, 29 Juni 2014

Penyerahan Meriam Howitzer Caesar 155

Meriam Caesar 155 yang Dipesan IndonesiaRoanne ★ Modernisasi alutsista yang dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) Republik Indonesia tidak hanya dengan memesan tank Leopard, namun juga memesan produk-produk persenjataan canggih lainnya. Salah satunya adalah meriam Caesar 155, sebuah meriam berkaliber 155 mm yang memiliki daya tembak sejauh 39 KM. Meriam ini dibuat PT Nexter, sebuah perusahaan persenjataan di Roanne, Prancis.

Rabu (25/6/2014) pukul 13.00 waktu Prancis, tiga buah truk bermesin 2.500 cc yang dilengkapi dengan meriam berukuran panjang dan besar itu sudah diparkir rapi di sebuah ruangan besar di pabrik Nexter untuk menyambut Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan delegasi. Ini merupakan tiga dari total 37 meriam Caesar 155 yang telah dipesan Indonesia pada 2013 lalu.

Pabrik Nexter yang memiliki areal sangat luas ini berada di kota kecil Roanne, sekitar 500 KM dari Kota Paris. Untuk menuju Roanne, dibutuhkan sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kereta api cepat dari Paris. Bila menggunakan pesawat, Paris-Roanne bisa ditempuh 1 jam 10 menit dan mendarat di bandara kecil Lyon. Dari bandara Lyon, untuk menuju Nexter, hanya dibutuhkan sekitar 15 menit melalui jalan darat. Pabrik ini berada di pedesaan yang sangat tenang dan indah, jauh dari pemukiman.

Hari itu memang akan digelar ada roll-out, penyerahan secara simbolis, empat unit Caesar 155 kepada Indonesia. Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengharapkan empat unit Caesar ini bisa tiba di Indonesia sebelum 5 Oktober 2014. Selain dipamerkan 3 unit Caesar 155 yang sudah diselesaikan, di ruangan bengkel itu juga telah disusun sekitar 100 kursi untuk tempat duduk para undangan yang akan menyaksikan peristiwa bersejarah ini.

Caesar 155 akan menjadi andalan baru artileri Angkatan Darat (AD) dalam pertempuran. Baru kali ini, TNI AD memiliki meriam yang memiliki sistem bergerak dan memiliki daya jangka tembakan sejauh 39 KM. Meriam ini juga mampu melepaskan 6 amunisi berbobot 47 kg dalam 1 menit.

"Ini bagian dari modernisasi alat persenjataan AD. Selama ini kita hanya memiliki meriam berkaliber 155 mm yang ditarik dengan truk, sehingga mobilitas kurang cepat," kata Komandan Pusat Persenjataan Artileri Medan (Danpusenarmed) Brigjen TNI Sonhadji sebelum roll-out dilangsungkan.

Caesar 155 merupakan meriam 155 mm yang selalu digendong oleh truk bermesin Renault ke mana pun bergerak. Truk berbobot 19 ton ini memiliki laju maksimum 82 KM/jam, sehingga sangat ampuh untuk mobilitas tinggi. Konsepnya, dalam pertempuran nanti, setelah Caesar 155 digunakan melepaskan amunisi untuk menghancurkan target, maka alat persenjataan ini bisa langsung berpindah tempat, sehingga sulit dideteksi musuh.

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengakui bahwa Caesar 155 ini menjawab doktrin yang dikembangkan artileri TNI AD, yaitu senjata berdaya tembak dahsyat dengan mobilitas tinggi. Persenjataan canggih ini menjadi kekuatan pokok yang dibutuhkan untuk menambah kemampuan organisasi TNI.

"Caesar 155 ini adalah alutsista strategis untuk menambah kemampuan dari satuan Artileri TNI AD yang mempunyai daya tembak yang dahsyat 39 KM, ditambah dengan mobilitas tinggi, karena sistem di kendaraan ini, pada saat dia menembakkan 6 proyektil, dia bisa segera bergeser, sehingga antara mobilitas dan deception itu mencakup," kata Sjafrie yang tampak berseri-seri melihat Caesar 155 ini.

Meriam ini nantinya dioperasikan oleh 5 prajurit. Pada saat truk bergerak menuju sasaran, lima prajurit duduk di dalam kabin, dengan salah satu bertindak sebagai sopir. Begitu tiba di lokasi penembakan, kelima personel ini akan turun dari truk, bahu membahu untuk mengoperasikan penembakan. Satu personel mengambil amunisi, satu personel menyiapkan fuse (sumbu)-nya, satu personel memantau screen komputer untuk menentukan koordinat target serangan, satu personel bertugas memasukkan amunisi, dan 1 personel sebagai komandan.

Sistem penembakan di Caesar 155 ini juga telah dibuat otomatis, termasuk proses penyiapan dan pemasukan amunisi ke meriam. Truk ini membawa 18 amunisi yang ditempatkan dengan sangat aman di bagian kanan, sementara 18 fuse-nya ditempatkan di sebelah kiri.
4 Unit Meriam Caesar 155 Sampai Sebelum 5 OktoberPemerintah Indonesia memesan 37 unit meriam Caesar 155, sebuah meriam berkaliber besar 155 mm yang menempel di truk, kepada Nexter, sebuah pabrik persenjataan di Roanne, Prancis. Dari 37 unit, 4 unit Caesar 155 sudah siap dikapalkan dan akan menyapa Bumi Indonesia sebelum HUT TNI 5 Oktober 2014.

Penyerahan secara simbolis (roll-out) Caesar 155 tahap pertama dilakukan di pabrik Nexter di Roanne, sekitar 500 KM dari Paris, Rabu (25/6/2014). Hadir dalam roll-out, delegasi yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin. Para anggota delegasi, antara lain Laksda TNI Rachmad Lubis (Kabaranahan), Asops KSAD Mayjen TNI Sonny Widjaja, Danpusenarmed Brigjen TNI Sonhadji, Dirrenbanghan Marsma TNI M Safii, Kapusada Marsma TNI Asep S, Atase Pertahanan KBRI Prancis Kol Age Wiraksono, dan Atase Militer KBRI Prancis Kololnel Jaka Tandang, serta Dirut PT Pindad Sudirman Said.

Upacara penyerahan ini dipimpin oleh M Mike Duckworth, Executive Vice President International Affairs Nexter, dan diikuti jajaran eksekutif Nexter dan para karyawannya. Tiga unit Caesar 155 yang jadi pusat perhatian dipajang di ruangan workshop yang cukup luas itu.

"Sejak kesepakatan ditandatangani Oktober 2013 lalu, dalam waktu enam bulan Nexter sudah bisa menyelesaikan 4 unit, yang tiga di antaranya sudah berada di ruangan ini," kata Duckworth saat menyampaikan sambutan dan disambut dengan tepuk tangan.

Menurut Duckworth, Nexter akan terus berkomitmen untuk melakukan kerjasama dengan Indonesia yang bertekad melakukan modernisasi alutsistanya. Pada kesempatan itu, Duckworth juga menjelaskan keunggulan Caesar 155 yang menjadi andalan produk Nexter. Rencananya, 4 unit Caesar 155 yang sudah siap digunakan ini akan segera dikapalkan ke Indonesia.

Sementara itu, Sjafrie Sjamsoeddin yang diminta memberikan sambutan, menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada eksekutif Nexter dan jajarannya yang telah berupaya keras menyelesaikan Caesar 155 pesanan Indonesia. "Saya berharap 4 unit yang sudah siap ini bisa segera tiba di Indonesia dan akan diikutkan defile hari HUT TNI yang akan dilangsungkan di Surabaya," kata Sjafrie.

Sjafrie juga meminta kerjasama dengan Nexter akan terus dilanjutkan, termasuk kerjasama dengan PT Pindad dalam memproduksi komponen dan amunisi untuk mendukung produksi Caesar 155. Sjafrie yakin kerjasama dengan Nexter ini akan semakin mempererat hubungan bilateral antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Prancis. "Besok, saya akan bertemu Menhan Prancis, saya akan sampaikan mengenai kerjasama dengan Nexter ini," ujar Sjafrie.

Penyerahan 4 unit Caesar 155 ini ditandai dengan pengguntingan pita merah oleh Sjafrie dan Duckworth. Setelah itu, Sjafrie dan Duckworth menginspeksi Caesar 155. Keduanya melihat masing-masing bagian di truk itu, termasuk bagian kabin-nya. Setelah itu, Sjafrie juga mencoba naik ke truk tersebut dan berputar-putar di area ujicoba. Di tengah lapangan, Sjafrie juga diperlihatkan oleh staf Nexter bagaimana pengoperasian Caesar 155.

Artillery Sales & Program Manager Nexter, Raoul Duranton, menjelaskan pengiriman 37 Caesar 155 untuk Indonesia akan dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama, 4 unit akan segera dikirimkan pada bulan Juli 2014 langsung ke Surabaya. Setelah itu 15 unit akan dikirimkan ke Indonesia pada Maret 2015. Sedangkan sisanya akan dikirim pada September 2015.

Raoul juga menjelaskan mengenai keunggulan Caesar 155. Selain dilengkapi dengan mesin canggih Renault, Caesar 155 juga memiliki teknologi yang tinggi. "Caesar 155 bisa memuntahkan 6 amunisi dalam waktu 1 menit," kata pria muda ini. Daya tembak Caesar 155 bisa sejauh 39 KM.
Dengan US$ 141 Juta, Indonesia akan Miliki 2 Batalion Meriam Caesar 155Upaya modernisasi alutsista Indonesia memang perlu banyak biaya. Untuk membeli 2 batalion Meriam Caesar 155, pemerintah Indonesia harus merogoh US$ 141 juta. Namun dengan harga ini, selain mendapat 37 unit meriam berkaliber 55 dan berdaya tembak 39 KM, Indonesia juga mendapat alih teknologi.

"Biaya yang dikeluarkan cukup besar, yaitu US$ 141 juta untuk 37 unit dan itu terdiri dari 2 batalion," kata Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di sela-sela menginspeksi Caesar 155 di area uji coba pabrik Nexter, di Roanne, Prancis, Rabu (25/6/2014).

Sjafrie menegaskan dalam pengadaan persenjataan, pemerintah tidak hanya sekadar membeli, tapi juga membangun sistem, sehingga industri pertahanan Indonesia bisa maju di masa yang akan datang. "Karena itu sejak awal dilakukan kerjasama dengan Nexter, juga memikirkan kandungan lokal yang diperlukan terhadap kebutuhan alutsista ini, antara lain diperlukan adanya kandungan lokal kaitannya dengan komunikasi dan kendaraan," kata Sjafrie.

Untuk memajukan industri pertahanan nanti, PT Pindad akan terus melakukan komunikasi dan kerjasama dengan Nexter. "Ini semua merupakan bagian tak terpisahkan dari kemampuan PT Pindad. Jadi dalam modernisasi ini, kemampuan yang besar dan minim kita petik, tidak hanya untuk kemampuan AD, tapi juga kemampuan industri pertahanan kita, yaitu Pindad," tegas Sjafrie.

Dengan harga tersebut, Indonesia juga sudah mendapat sekitar 2.000 amunisi kaliber 155 mm. Amunisi untuk Caesar 155 memiliki berat 47 kg dengan teknologi baru di bagian sumbunya.

Kontrak pembelian Caesar 155 ini sudah ditandatangani Indonesia dan Nexter Oktober 2013 lalu. Seperti biasa, dalam pengadaan alutsista ini, Indonesia sudah meninggalkan cara-cara lama menggunakan calo. Indonesia langsung berhubungan dengan Nexter sebagai produsen.

 2 Batalion Caesar 155  


Sementara itu, Komandan Pusat Persenjataan Artileri Medan (Danpusenarmed) Brigjen TNI Sonhadji menjelaskan bila nanti 37 Caesar 155 sudah tiba di Indonesia, maka meriam-meriam ini akan ditempatkan di dua batalion. Masing-masing batalion terdiri dari 18 unit Caesar 155.

"Sesuai petunjuk pimpinan, 1 batalion untuk Armed 9 di Purwakarta, 1 batalion untuk Armed 12 Ngawi. Seluruhnya masuk jajaran Kostrad," kata Sonhadji. Sedangkan 1 unit sisanya akan ditempatkan di lembaga latihan dan pendidikan.

Sedangkan mengenai pelatihan untuk mengoperasikan Caesar 155, kata Sonhadji, beberapa perwira TNI AD akan segera dikirim ke Nexter untuk dijadikan sebagai trainer (pelatih). "Untuk proses training, sesuai kontrak dengan Nexter, untuk tahap pertama, pelatih akan dilatih di Nexter dan berikutnya akan dilatih di Indonesia," jelas dia.

Proyek pengadaan Caesar 155 ini akan diselesaikan dalam tiga tahap. Tahap pertama, 4 unit Cesar 155 akan dikirim bulan Juli ke Surabaya. Setelah itu, 15 unit Caesar akan dikirim pada Maret 2015 dan sisanya akan dituntaskan dan dikirim pada September 2015.

Menurut Sjafrie, dengan adanya dua batalion Caesar 155, maka saat ini TNI AD sudah dilengkapi dengan persenjataan yang modern dan strategis. "Yang lebih penting saat ini TNI AD sudah dilengkapi dengan modernisasi, sehingga alutsistanya dan kemampuannya sudah bisa berskala strategis. Jadi taktis sudah diketahui, teknisnya juga diketahui, dampak strategisnya pun sudah dimiliki AD," kata Sjafrie.
Amunisi Meriam Caesar 155 yang akan Diproduksi PT PindadSambil menyelam minum air. Itulah yang dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam pengadaan modernisasi alutsista Indonesia. Membeli senjata, tidak hanya sekadar membeli, tapi juga menyerap teknologi. Sebagai contoh, dalam pembelian meriam Caesar 155 yang memiliki daya tembak 39 KM, Indonesia juga memiliki kerjasama dengan Nexter untuk memproduksi amunisinya bersama PT Pindad.

Bagaimana rupa amunisi berkaliber 155 mm itu? detikcom berkesempatan melihat dan mencoba mengangkat amunisi berwarna hijau di bagian batangnya dan hitam di pucuknya itu. Wow! Sangat berat, berbobot 47 kg. Untuk membopongnya harus menggunakan dua tangan.

Amunisi berbentuk runcing ini terbagi menjadi dua. Bagian pertama adalah bagian tabung yang berisi mesiu. Bagian kedua adalah sumbu (fuse) yang terletak di bagian ujung yang runcing. Di bagian sumbu ini terdapat timer - berisi angka-angka -, untuk menetapkan kapan amunisi itu meledak setelah didorong oleh meriam.

Beberapa contoh amunisi meriam Caesar 155 ini dihadirkan saat penyerahan 4 Caesar 155 di ruang workshop pabrik Nexter di Roanne, Prancis, Rabu (25/6/2014). Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin juga sempat berdiri lama melihat amunisi dan berbincang serius dengan pihak Nexter.

Sjafrie telah mengingatkan Nexter agar segera dibahas mengenai koordinasi dalam pembuatan amunisi itu bersama PT Pindad, sebagai bagian dari kesepakatan yang telah ditandatangani. Saat diingatkan hal ini, M Mike Duckworth, Executive Vice President International Affairs Nexter, menyatakan sangat memahami hal ini dan siap melaksanakannya.

"Tentunya ke depan kita akan kerjasama, Pindad akan berperan dalam membuat amunisi. Inilah target kemandirian industri pertahanan kita. Kita beli senjata, beli amunisi, kita pelajari juga bagaimana membuat amunisi. Mudah-mudahan 5 tahun ke depan Pindad sudah bisa membuat amunisi kaliber besar untuk meriam 155 mm dan bagaimana membuat amunisi besar untuk artileri lain," kata Sjafrie.

Sebelum meninggalkan pabrik Nexter, Sjafrie juga sempat berbincang serius dengan Duckworth dan mengundang Dirut PT Pindad Sudirman Said dan Danpusenarmed Brigjen TNI Sonhadji. Dalam perbincangan itu, lagi-lagi Sjafrie mengingatkan Nexter agar segera berkoordinasi dengan Pindad dalam kerjasama membuat amunisi. Sudirman Said sebagai dirut Pindad dan Duckworth menegaskan siap untuk berkoordinasi.

Seperti diketahui, Indonesia membeli 37 unit Caesar 155 dengan biaya US$ 141 juta. Harga ini sudah termasuk dengan 2.000 amunisinya. Caesar 155 merupakan meriam berdaya tembak 39 KM yang terangkut truk, sehingga bisa lebih cepat bergerak.

  ★ detik  

Pesawat Jet Tempur Indonesia

Di ASEAN, Hanya Indonesia yang Mengembangkan Pesawat Jet Tempur


Indonesia saat ini sedang mengembangkan pesawat atau jet tempur canggih. Program pengembangan jet tempur tersebut bernama Indonesia Fighter Xperiment (IFX), dengan menggandeng Korea Selatan. Di ASEAN, baru Indonesia yang mengembangkan pesawat tempur canggih generasi 4,5 tersebut.


"Di negara ASEAN belum ada," kata Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga di Kemenhan Silmy Karim kepada detikFinance, Jumat (27/6/2014).



Mahalnya biaya pengembangan jet tempur yang lebih canggih daripada pesawat F-16 itu, menjadi alasan kenapa hanya Indonesia yang mengembangkan jet tempur di ASEAN.



Selain itu, pengembangan jet tempur tersebut diharapkan mampu memicu kebanggaan terhadap Indonesia. "Ini bagian ini peningkatan kebanggaan. Ini juga merupakan proses transparansi ke publik," sebutnya.



Prototype atau purwarupa IFX bisa direncanakan mengangkasa mulai 2020. Untuk pengembangan prototype dilakukan di Korea Selatan. Dua tahun berselang dan setelah proses penyesuaian untuk kebutuhan TNI, IFX memasuki fase produksi massal. Untuk bagian Indonesia, akan diproduksi di fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat.


"Program bersama dilakukan di sana (Korsel), ketika produksi kita buat di sini," sebutnya.


Berani Bikin Jet Tempur, RI Pernah Ditertawakan Asing Soal Pesawat N250.

N250 (IPTN)

Insinyur atau tenaga ahli kedirgantaraan Indonesia saat ini tengah merancang program pengembangan jet tempur canggih, bernama Indonesia Fighter Xperiment (IFX). Pesawat IFX merupakan jet tempur canggih generasi 4.5 dan memiliki teknologi di atas F16.

Untuk pengembangan jet tempur versi lokal tersebut, insinyur Indonesia dinilai memiliki kemampuan yang mumpuni.

"SDM kita diakui cukup baik dan punya kemampuan bahkan untuk beberapa (insinyur) di atas mereka jadi kalau masalah SDM kita cukup unggul," kata Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim saat berbincang kepada detikFinance, Jumat (27/6/2014).

Kemampuan insinyur Indonesia telah teruji. Program pengembangan pesawat seperti CN235, N250, N2130 menjadi pembuktian para ahli pesawat Indonesia. Bahkan para insinyur RI saat ini bertebaran di perusahaan pesawat dunia seperti Boeing, Airbus, hingga Embraer.

"Waktu kita bikin N250 diketawain, terus rancang N2130 semua ketawain, termasuk dari luar negeri ketawain kita. Sekarang terbukti, pesawat sejenis banyak dipakai di Indonesia (ATR hingga Boeing 737)," jelasnya.

Diakui Silmy untuk komponen penunjang, IFX pasti memakai komponen dari luar negeri. Hal ini normal dijumpai di industri pesawat. "Indonesia dalam membuat pesawat CN235 pun masih menggunakan komponen dari luar jadi nggak semua dari Indonesia," paparnya.

Seperti diketahui proyek pesawat tempur dimulai sejak tahun 2010. Pihak Indonesia melibatkan ahli-ahli atau insinyur dari PT Dirgantara Indonesia (Persero), perguruan tinggi dan Kementerian Pertahanan untuk merancang konsep jet tempur bersama di Korea Selatan.

Rencananya purwarupa atau prototype KFX/IFX bisa diperkenalkan ke publik pada tahun 2020. Selanjutnya 2 tahun kemudian, jet tempur IFX akan diproduksi di Indonesia. Rencananya Indonesia memproduksi sebanyak 50 unit jet IFX. 


Semoga Presiden Baru Dukung Jet Tempur Made In RI 


Pada 9 Juli nanti Indonesia kan menentukan presiden baru periode 2014-2019. Bagaimana nasib program strategis nasional yang bersifat jangka panjang, seperti pengembangan jet tempur canggih bernama Indonesia Fighter Xperiment (IFX)?

Program pesawat ini dimulai dan dirancang sejak tahun 2010, dan direncanakan memasuki fase produksi massal mulai tahun 2022.

Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim menyebut, program pengembangan jet tempur canggih IFX sangat bergantung terhadap Presiden baru. Namun meski tergantung, Silmy menyebut Indonesia harus memiliki kemandirian di dalam penguasaan dan produksi pesawat tempur canggih.

"Kalau kemandiriannya berapa lamanya, itu tergantung keputusan kepala pemerintahan," kata Silmy saat berbincang dengan detikFinance, Jumat (27/6/2014).

Silmy menjelaskan, program jet tempur IFX generasi 4.5 tersebut sangat menguntungkan Indonesia. Bila pesawat ini tercipta, maka bisa menghemat devisa karena pemenuhan peralatan tempur canggih dipenuhi dari industri pertahanan dalam negeri.

"Ini penghematan, kalau beli di luar negeri ya yang menikmati luar negeri," sebutnya.

Sebelumnya Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT Dirgantara Indonesia (persero) Budiman Saleh menjelaskan, pengembangan proyek pesawat tempur KFX/IFX akan terus berlanjut, meski presiden di Indonesia maupun di Korea Selatan telah berganti.

"Itu masuk blue print pemerintah, akan diteruskan oleh siapapun presidennya," kata Budiman.

Untuk versi Indonesia, jet tempur jenis pesawat IFX akan diproduksi di markas PTDI di Bandung, Jawa Barat. Sedangkan Korea Selatan akan memproduksi KFX. Produksi massal dimulai pada tahun 2022.

Diproduksi 50 Unit

Indonesia dan Korea Selatan sedang mengembangkan jet tempur canggih. Kedua negara sepakat merancang burung besi canggih untuk keperluan perang. Pesawat tersebut masuk generasi 4.5.

Program tersebut bernama Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX). Seri KFX/IFX sendiri setara dengan jet tempur tipe F-18 Super Hornet, Eurofighter Typhoon, hingga Dessault Rafale. Pesawat generasi 4.5 mulai dikembangkan pada dekade 1990-an. Pesawat generasi 4.5 ini masih diproduksi hingga kini, meskipun pengembangan jet tempur telah memasuki generasi 5 dan 6.

Untuk versi Indonesia atau IFX, prototype akan diluncurkan pada tahun 2020. Selanjutnya 2 tahun berikutnya atau tahun 2022, IFX akan diproduksi secara massal di Indonesia. Produksi pesawat disesuaikan dengan kebutuhan TNI dan kondisi geografis TNI.

"Untuk buat pesawat terbang militer itu normal 8 tahun. Apalagi skala fighter kalau pesawat kecil biasa cuma 4 tahun. Produksinya 2022. Prototype harus terbang pada tahun 2020. Itu sudah terbang. Itu untuk 2 negara," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Budi Santoso kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Saat diproduksi bersama, KFX/IFX akan diproduksi sebanyak 150 unit. Dengan rincian Angkatan Udara Korea Selatan memperoleh 100 unit (KFX) dan Angkatan Udara Indonesia mendapatkan 50 unit (IFX). Sementara untuk pembiayaan, sebanyak 80% ditanggung oleh pemerintah Korea Selatan dan 20% oleh pemerintah Indonesia.

Pemerintah Harus Bikin Jet Tempur Sendiri

Indonesia memasuki babak baru di sektor pesawat terbang. Bersama Korea Selatan, Indonesia sejak 2010 mengembangkan mega proyek jet tempur canggih generasi 4.5. Jet tempur ini dikenal dengan program Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX).


Sebetulnya seberapa penting pengembangan jet tempur asli buatan lokal yang membutuhkan dana triliunan rupiah tersebut?



Kepala Program Pesawat Terbang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Agus Aribowo menilai, pengembangan jet tempur IFX saat penting bagi kemandirian alat utama sistem senjata (Alutsista).



"Namanya pengembangan pesawat pesawat tempur itu adalah indikator kemandirian bangsa kalau pesawat sipil kan kita bisa beli ke Amerika Serikat seperti di Boeing," kata Agus kepada detikFinance, Jumat (27/6/2014).



Indonesia bisa saja membeli jet tempur canggih dari beberapa negara. Namun karena Indonesia secara politik tidak memihak alias non blok, sehingga produsen jet tempur enggan memberikan kelengkapan maksimal untuk produk jet tempur dijual ke Indonesia.



Agus mencontohkan, antara jet tempur F-16 milik Indonesia dan Singapura. Kedua negara memiliki pesawat serupa, namun pesawat milik Singapura jauh lebih unggul, karena Amerika Serikat selaku produsen memberikan produk terbaik. Pasalnya Singapura dan Amerika Serikat memiliki keterikatan yang kuat alias sekutu.



"Kalau kita beli pesawat pasti ada yang dikurangi seperti sistem persenjataan dikurangi jadi kita nggak bisa mandiri. Kalau F-16 Indonesia perang dengan F-16 Singapura, kita pasti kalah karena kemampuan taktis kita kalah. Terus sistem persenjataan dipereteli," sebutnya.



Jika mengembangkan jet tempur secara mandiri, Agus menyebut, Indonesia bisa melakukan inovasi produk jet tempur sesuai kebutuhan dan perkembangan teknologi. Pasalnya pesawat tempur merupakan teknologi termutakhir di industri pesawat terbang.



"Kita bisa berinovasi, kita bisa berkreasi sesuai dengan kemampuan dan kemauan," jelasnya.



Agus menerangkan, LAPAN sendiri dilibatkan di dalam pengembangan IFX. LAPAN bertugas menguji jet tempur asli buatan Indonesia.



"Kita terlibat di dalam pengujian dasar aero-dinamika. Itu belum karena masih jalan terus. Di masa mendatang kita pengin terlibat proses light test," ujarnya.



Sementara itu, Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Silmy Karim menyebut, program pengembangan jet tempur generasi 4.5 tersebut, sangat menguntungkan Indonesia. Indonesia bisa menghemat devisa karena pemenuhan peralatan tempur canggih dipenuhi dari industri pertahanan dalam negeri.

Jet Tempur Made In RI Bisa Tipu Radar

Jet tempur Indonesia Fighter Xperiment (IFX) yang dikembangkan Indonesia lewat PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bakal memiliki kecanggihan dan mumpuni. Pesawat yang bakal diproduksi di 2020 itu, memiliki kemampuan anti radar. Teknologi generasi 4.5 membuat jet tempur IFX bisa mengelabui radar musuh.



"Dia mengembangkan anti radar, sistem radar paling canggih. Dia kelihatan di radar sedikit atau samar-samar di radar, kalau F-16 itu kelihatan di radar," kata Kepala Program Pesawat Terbang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Agus Aribowo kepada detikFinance, Jumat (27/6/2014).



Selain itu, sistem elektronik (avionic) memakai teknologi terkini. Untuk meningkatkan kemampuan, IFX juga memakai kerangka pesawat yang ringan, sehingga membuat manuver menjadi gesit.



"Kemudian bisa bermanuver tinggi, perlu struktur yang kuat dan ringan. Kemudian sistem avionic terbaru," sebutnya.



Agus juga menegaskan, insinyur Indonesia memiliki kemampuan mengembangkan jet tempur canggih generasi 4.5 tersebut.



"Sebenarnya mampu, kan ada PTDI (PT Dirgantara Indonesia) kemudian ada ITB, BPPT, LAPAN, justru kalau digulirkan ke Korea, mereka belajar malah ke Indonesia karena kita punya pengalaman," ujarnya.(feb/dnl)

Dahlan Dukung PTDI Bikin Jet Tempur dan Pesawat Militer

BUMN produsen pesawat yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tengah merancang pesawat tempur baru Indonesia Fighter Xperiment (IFX), bersama Koreal Selatan. Pemerintah mendukung penuh.



Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, rancangan jet tempur tersebut merupakan program PTDI. "PTDI itu sekarang paling ramai pekerjaannya. Belum pernah PTDI sesibuk sekarang ini. Ordernya banyak sekali. Jadi dalam sejarah PTDI, sekaranglah ordernya paling banyak," tutur Dahlan di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/6/2014).



PTDI diminta untuk meningkatkan kemampuannya memproduksi pesawat, khususnya pesawat militer. Dahlan mengatakan, PTDI merupakan BUMN di sektor industri strategis seperti Pindad dan PT PAL.



Bagaimana dukungan Dahlan terhadap PTDI? Mantan Direktur Utama PLN ini mengatakan, dirinya setuju agar PTDI memproduksi pesawat yang anggarannya ada.



"Misalnya PT PAL, anggarannya dari Kemenhan untuk membuat kapal perang itu banyak sekali. Karena itu harus fokus kemampuannya di bidang industri pertahanan. Jangan lantas tiba-tiba memproduksi kapal niaga yang akhirnya malah menyulitkan," jelas Dahlan.(dnl/hen) 



 
★ detik  



Hanya dalam Enam Bulan, Kalahkan Drone Wulung



PENELITI yang sehari-hari menjabat sebagai direktur Advanced Marine Vehicles Research Center di Universitas Surya tersebut memang sudah lama terobsesi pada dunia penerbangan.

Berbekal pengetahuan dan pengalaman selama lebih dari 20 tahun di bidang penerbangan, doktor lulusan Universitas Nagoya, Jepang, tersebut membuka harapan baru bagi dunia kedirgantaraan dan militer Indonesia dengan menciptakan pesawat tanpa awak yang diberi nama Super Drone.

Berawal dari penunjukan dirinya sebagai penanggung jawab penelitian dan pembuatan drone oleh Universitas Surya yang bekerja sama dengan TNI-AD, Thombi lalu mengumpulkan sejumlah peneliti sebagai tim pembuat Super Drone. Jumlahnya tujuh orang dan semuanya merupakan pakar di bidang aeromodeling.

Tim itu juga diperkuat tim ahli dari TNI-AD. ”Jadi, total tim beranggota 14 pakar,” kata Thombi kepada Jawa Pos saat ditemui Rabu lalu (25/6).

Mantan peneliti BPPT (Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi) itu mengatakan, proyek tersebut nyaris membuat para anggota tim kencing berdiri. Sebab, proyek itu sejak awal ditargetkan selesai dalam enam bulan.

Hal tersebut terkait dengan dana yang terbatas, yakni sekitar Rp 1 miliar. Waktu enam bulan itu relatif singkat untuk sebuah proyek pembuatan pesawat tanpa awak. Juga, mulai Oktober 2013 proyek itu dieksekusi.

Meski begitu, Thombi cs tidak lantas mundur. Target waktu yang singkat dan biaya yang terbatas bagi sebuah proyek berteknologi tinggi tersebut mereka jadikan tantangan. Thombi juga perlu memompa semangat timnya agar bekerja keras menyelesaikan proyek itu sesuai dengan target waktu yang dicanangkan.

”Harus siap berpanas-panas. Kalau tidak mau, jangan bergabung di tim ini,” tegasnya. Dengan berbekal pengetahuan, ketelitian, dan kerja keras, akhirnya Thombi cs berhasil menyelesaikan pembuatan Super Drone dalam waktu enam bulan pada Maret 2014.

”Sepanjang sejarah di Indonesia, yang saya tahu, (pembuatan drone) ini rekor tercepat. BPPT saja itu butuh waktu 15 tahun,” ujar pria kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1966, tersebut.

Tidak hanya selesai membuat bodi, Thombi dan kawan-kawan juga sukses membuat Super Drone bisa terbang nyaris sempurna. Pesawat tanpa awak itu kali pertama diuji coba di lokasi latihan Kopassus di kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jawa Barat.

Memang menerbangkan Super Drone yang baru jadi tersebut tidak bisa sembarangan. Perlu memperhatikan kondisi cuaca dan arah angin. Sebab, apabila salah memperhitungkan cuaca, drone bisa gagal lepas landas atau jatuh.

”Makanya, harus sabar. Kalau tidak bisa hari ini, ditunggu sampai besok hingga cuacanya bagus dan memungkinkan untuk menerbangkan,” terang Thombi.

”Momen yang paling luar biasa adalah ketika melihat drone berhasil lepas landas. Rasanya, terbayar kerja keras kami selama ini,” tambah doktor yang pernah bergabung di Japan Society for Aeronautical and Space Sciences tersebut.

Super Drone karya Thombi dan timnya punya bobot total 120 kilogram dengan rentang sayap 6 meter dan panjang 4 meter. Drone itu mampu membawa bahan bakar bensin hingga 20 liter di udara.

Bensin dibawa dengan menggunakan dua tabung yang diletakkan di tiap-tiap sayap. Dengan stok bahan bakar sebanyak itu, Super Drone mampu terbang 6–9 jam dengan daya jelajah sejauh sekitar 100 kilometer. Pesawat itu juga bisa membawa beban seberat 45 kg saat terbang.

Meski bukan drone pertama yang dibuat di Indonesia, terang Thombi, Super Drone akan menjadi bagian dari alutsista (alat utama sistem persenjataan) TNI-AD untuk kepentingan pertahanan negara. Ke depan, Super Drone disempurnakan sehingga dapat digunakan untuk menyerang musuh, seperti Predator Drone milik Amerika Serikat atau Eitan kepunyaan Israel.

”Tidak hanya untuk pertahanan, untuk aksi kombat juga bisa. Misalnya, tabung bensin diganti dengan bom. Minimal dapat digunakan untuk latihan menjatuhkan bom,” terang Thombi.

Menurut rencana, Super Drone dilengkapi dengan kamera pengintai di bagian bawah kepala pesawat. ”Saat ini belum dipasangi karena masih butuh penyempurnaan. Kamera itu mahal harganya. Kalau dipakai sekarang, terus jatuh, saya bisa nangis,” ucapnya.

Kendati demikian, Thombi mengakui bahwa Super Drone masih jauh dari sempurna. Banyak bagian drone di sana-sini yang masih butuh penyesuaian dan penyempurnaan agar dapat digunakan di lapangan.

Menurut Thombi, yang paling sulit dalam penyempurnaan Super Drone adalah menentukan titik keseimbangan pesawat. Thombi, yang menamatkan program S-1 di Jurusan Teknik Penerbangan Texas A&M University, AS, mengatakan bahwa titik keseimbangan dalam pembuatan pesawat merupakan salah satu yang paling vital. Sebab, beda berat 1 gram saja akan memengaruhi posisi pesawat saat berada di udara.

”Kalau mobil atau truk beda berat di samping atau depan-belakangnya, ia masih bisa jalan di darat. Kalau pesawat, akan jatuh. Makanya, bidang penerbangan menuntut untuk disiplin dan teliti menghitung semuanya,” ujar dia.

Sebab, lanjut dia, waktu enam bulan yang diberikan buat penelitian dan penyelesaian drone tidak mencukupi untuk menciptakan drone yang punya kemampuan baik. ”Waktu enam bulan ya hasilnya adalah enam bulan itu.

Jangan ini dibandingkan dengan drone milik Israel. Penelitian mereka bertahun-tahun dengan dana yang unlimited. Jadi, harus dibandingkan apple-to-apple,” tuturnya.

Selain bidang penerbangan, Thombi ternyata juga menekuni bidang maritim. Dia pernah terlibat dalam pembuatan kapal laut dan kapal selam kecil untuk keperluan penelitian di salah satu perusahaan pembuat kapal.

Bagi Thombi, sistem kerja pesawat terbang dan kapal selam tidak jauh berbeda karena sama-sama melayang. Bedanya, pesawat melayang di udara, sedangkan kapal selam ”melayang” di air laut. ”Bedanya ada di fluidanya. Yang satu udara dan satunya air,” ucapnya seraya tertawa.

Pengetahuan mengenai udara dan air tersebut dia wujudkan melalui hasil riset berupa perahu hovercraft yang dirancang dapat terbang di atas air. Perahu itu dapat melayang karena dilengkapi dengan sebuah kipas yang mengarah ke bawah dan sayap. Dengan mengatur pada kecepatan tertentu, perahu akan terbang statis setinggi sekitar 1 meter dari permukaan air.

Hovercraft terbang tersebut akan digunakan untuk program iFly yang dia gagas. Proyek itu merupakan program sosial untuk memperkenalkan pengetahuan berbasis teknologi tingkat tinggi kepada anak-anak putus sekolah. Dalam program tersebut, Thombi bakal memperkenalkan perahu terbang karyanya itu dan mengajak anak-anak untuk ikut mempelajari kinerjanya.

”Dengan memperkenalkan teknologi tingkat tinggi, anak-anak jalanan itu akan termotivasi bahwa mereka juga bisa menciptakan teknologi. Mereka punya potensi yang tidak mereka sadari, yaitu otak yang luar biasa,” tegas dia.

  ★ Jawapos  


Militer Indonesia Butuh Tank Tempur Terbaik


Prajurit TNI menggunakan Tank Leopard (depan) saat peringatan ke-68 Hari Jadi TNI di Skuadron 2 Halim Perdana Kusumah, Jakarta. (ANTARA FOTO/Ujang Zaelani)

Ketika negara-negara maju yang memiliki kekuatan militer besar beralih ke kendaraan lapis baja yang lebih ringan dan lincah, negara-negara berkembang justru tertarik menggunakan tank tempur berat (main battle tank/MBT).

Kementerian Pertahanan menyebutkan 26 tank Leopard dan 26 unit tank Marder akan tiba di Indonesia pada pekan pertama September 2014. Pengumuman itu disampaikan setelah dua calon presiden Indonesia bersikap pro atau kontra atas pembelian tank tersebut.

Sebenarnya pro-kontra pembelian tank tempur utama Leopard 2 sudah bergulir jauh hari sebelum debat calon presiden tahap ketiga digelar Komisi Pemilihan Umum pada Minggu lalu. Yang kontra menyebutkan bobot tank tersebut cukup berat dan kurang cocok dioperasikan di Tanah Air.

Pembelian Leopard kembali mengemuka ketika capres Jokowi -- dalam debat yang membahas Politik Luar Negeri dan Ketahanan Nasional-- menyatakan ketidaksetujuannya atas pembelian tersebut.

Capres Jokowi yang dibelakangnya berkumpul para pensiunan jenderal mumpuni, menyebutkan tank Leopard berbobot terlalu berat, yakni 62 ton, sehingga tak cocok dengan kondisi geografis Indonesia. Selain itu, alih teknologinya pun tak terpenuhi sebagaimana diatur dalam UU No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

Capres Prabowo Subianto tidak sependapat dengan Jokowi. Pensiunan jenderal berbintang tiga yang banyak menghabiskan karir militernya di satuan tempur itu justru mengatakan Indonesia butuh tank tempur berat, dan pembeliannya tentu sudah dikaji cermat oleh Kementerian Pertahanan dan TNI.

Setelah debat capres itu bergulir, Kemenhan kembali menyatakan pembelian tank Leopard tidak melanggar UU dengan tetap memperhatikan kondisi geografis Indonesia dan postur tubuh prajurit TNI.

Pembelian tank tempur utama (MBT/main battle tank) juga berdasarkan kajian teknis dan taktis oleh Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI AD, dan pembahasan lanjutan digelar di Mabes TNI AD dengan mempertimbangkan faktor sistem pemeliharaan, logistik dan purnajualnya.

Kemudian, di tingkat Mabes TNI dilakukan kajian operasional dengan melakukan pengujian. Sedang kebijakan pengadaanya dilakukan oleh Kemenhan, Mabes TNI, Mabes TNI AD, Kementerian Keuangan dan Bappenas, dengan mempertimbangkan kemampuan pabrikan, ketersediaan anggaran dan aspek lainnya. Setelah itu, baru diminta persetujuan DPR.

Dengan kata lain, prosedur pembelian Leopard cukup rumit dan melibatkan banyak instansi sehingga mengesankan kebijakan pembeliannya sesuai kebutuhan Indonesia.

Sebanyak 52 kendaraan lapis baja buatan Rheinmetall akan tiba di Indonesia pada pekan pertama September 2014. Upacara pengirimannya telah dilakukan di Unterluss Jerman pada 23 Juni, dan dihadiri Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin.

Kemenhan menyebutkan pengiriman itu merupakan gelombang pertama atas 130 unit tank Leopard dan 50 unit tank Marder berdasarkan kontrak pembelian antara Kemenhan Indonesia dan Rheinmetall pada 2012.

Sisa kendaraan lapis baja pesanan itu akan tiba di Tanah Air tahun 2016. Meski tak disebutkan, namun kontrak pembelian kendaraan itu dilaporkan mencapai 290 juta dolar AS.

Menhan Purnomo Yusgiantoro kembali menyebutkan TNI AD sudah melakukan pengujian atas Leopard itu, dan spesifikasi teknisnya disesuaikan dengan kebutuhan TNI AD.

Ia menyampaikan hal itu setelah dua tank Leopard 2 dan dua panser pengangkut pasukan Marder telah dikapalkan terlebih dahulu ke Jawa Timur untuk diuji. MBT yang ditempatkan sementara di Divisi 2 Kostrad/Malang itu sudah diuji dalam perjalanan Surabaya-Situbondo dengan melewati jalanan, sungai dan jembatan.

 Indonesia Butuh  

Banyak negara maju memang beralih ke kendaraan tempur yang lebih ringan dan lincah, namun banyak negara, termasuk di Asia, justru beralih ke tank tempur berat (MBT) karena membutuhkannya.

Negara-negara Eropa yang mengurangi atau "memensiunkan" armada tank beratnya, juga menawarkannya tanknya sehingga memicu minat negara lain untuk membelinya.

Tiongkok, India dan Pakistan bahkan diperkirakan memiliki hampir 60,38 persen dari produksi global tank hingga tahun 2017, sebagaimana dilaporkan situs defencereviewasia.com.

Di kawasan Asia Tenggara, setelah Malaysia mendapatkan MBT di tahun 2007, kemudian disusul Singapura, dan Indonesia pada September 2014. MBT Malaysia didatangkan dari Polandia, sedang Singapura menggunakan MBT buatan Jerman.

Awalnya Indonesia hendak membeli tank Leopard 2 yang digunakan Belanda, namun pembeliannya urung karena adanya penolakan dari oposisi Belanda.

Negara anggota ASEAN lainnya, Thailand, juga memiliki tank berbagai jenis, namun sudah tua. Negara itu memutuskan memilih tank Ukrania (T-84 Oplot) dengan menandatangani kontraknya pada September 2011.

Indonesia telah memutuskan membeli MBT Leopard 2 yang merupakan tank berat terbaik di kelasnya di kawasan Asia Tenggara. Kemenhan dan TNI menyebutkan pembeliannya berdasarkan kebutuhan, dan telah mendapatkan persetujuan dari DPR.

Pembelian tank Leopard yang diputuskan di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mendapatkan persetujuan dari calon presiden Prabowo Subianto, namun ditolak keras oleh calon presiden lainnya, Joko Widodo.

Menhan Purnomo menyebutkan Indonesia butuh tank tempur utama karena negara-negara tetangga sudah memilikinya terlebih dahulu. Meski TNI sudah memiliki tank Scorpion dan AMX-13, atau tank amfibi BMP-3, keberadaannya tidak cukup untuk menjaga kedaulatan Indonesia.

Leopard 2 adalah tank tempur utama generasi ketiga setelah dioperasikan tahun 1979. Tank ini disebutkan memiliki kesamaan dengan tank tempur utama AS, M1 Abrams, dan termasuk dalam kelompok tank-tank tempur utama terbaik di dunia. Sedang Marder merupakan kendaraan tempur pengangkut pasukan setipe M2 Bradley buatan AS.

Kebijakan Indonesia memodernisasi persenjataan militernya, termasuk memperkuat industri strategis dalam negeri, berkaitan dengan peningkatan kemampuan militer negara-negara di kawasan regional, sementara potensi konflik perbatasan makin meningkat yang umumnya dipicu masalah perbatasan dan perebutan kekayaan sumber daya alam.

Sehubungan itu, anggaran militer TNI perlu terus diperkuat. Jika pertumbuhan perekonomian nasional di atas 7 persen, anggaran militer tentu akan diperbesar.

Anggaran militer Indonesia tahun 2004 hanya Rp 21,42 triliun, di tahun 2013 menjadi Rp 84,47 triliun. Nilai akumulatif anggaran pertahanan dari tahun 2004 hingga 2013 mencapai Rp 440,94 triliun.

Peningkatan itu sesuai dengan kebijakan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun kekuatan nasional. Di era pemerintahannya, periode 2004-2014, alat utama sistem kesenjataan nasional yang dibelinya, di antaranya adalah pesawat Sukhoi-27SK/30 MK, korvet kelas Sigma, pesawat embraer EMB 314 Super Tucano sebagai pesawat pengganti OV-10, heli tempur AH-64D Apache, dan tank amfibi BMP-3. Selain itu, ada hibah 24 F-16 dari pemerintah AS.

Jumlah prajurit juga ditambah. Jumlah personel TNI meningkat dari 353.965 orang di tahun 2004 menjadi 415.805 orang pada 2013.

 Prajurit Handal 

Presiden SBY saat melantik 453 perwira remaja TNI di Yogyakarta, Kamis (26/6), kembali menyebutkan komitmen Indonesia untuk memiliki militer yang kuat.

"Kita ingin TNI menjadi kekuatan negara yang andal, TNI harus terlatih bermanuver dengan taktik secara baik, terdidik informasi teknologi dan memiliki alustsista yang semakin canggih," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan tantangan saat ini semakin berat sehingga di masa pemerintahannya telah dilakukan peningkatan kemampuan prajurit dan alusista TNI.

"TNI yang kita banggakan harus mampu hadapi berbagai ragam ancaman baik tradisional dan nontradisional, termasuk peperangan modern yang sarat dengan teknologi. Selain itu, 10 tahun terakhir kita tingkatkan profesionalisme dan kecakapan diiringi peningkatan kesejahteraannya. Dituntut cerdas dan adaptif," katanya.(H009/A011)


 
★ Antara  

Jika tak ada Leopard, bagaimana TNI hadapi Tank PT-91 Malaysia?

MBT Pendekar Malaysia

Capres Joko Widodo mengkritik pembelian tank kelas berat Leopard. Dia menilai tank berbobot 62 ton ini terlalu berat untuk jalan-jalan di Indonesia. Bobot tank juga tak bisa ditahan oleh jembatan-jembatan di Indonesia.

Sementara Capres Prabowo Subianto menilai Indonesia memang butuh tank kelas berat. Mantan Panglima Kostrad ini mencontohkan tahun 1970an saja tentara Vietnam Utara sudah menggunakan tank kelas berat. Masak, Indonesia sampai tahun 2000an tak punya tak kelas berat.

"Vietkong itu sudah pakai main battle tank. Mereka menyerang dengan main battle tank," kata Prabowo dalam debat capres, Minggu (23/6) malam.

Menengok kekuatan negara tetangga, Malaysia sudah lebih dulu membeli 45 buah PT-91M sekitar tahun 2007 dari Polandia. Tank yang diberi nama Pendekar itu berbobot 45,5 ton. Senjatanya kanon 125 mm 2A46M, senapan mesin 12,7 mm dan 7,62 mm. Malaysia membeli tank ini untuk menggantikan Tank ringan Scorpion buatan Inggris.

PT-91M Pendekar kini menjadi andalan resimen kavaleri Malaysia. Lapisan pelindungnya ERAWA 3 Explosive Reactive Armour, cukup kuat untuk menahan gempuran RPG, roket antitank atau tembakan kanon meriam 100 mm. Tank ini mampu digeber dengan kecepatan 70 km/jam.

 Bagaimana dengan Indonesia? 

Sejak tahun 1995, satuan kaveleri TNI AD hanya mengandalkan tank ringan FV101 Scorpion. Bobot tank ini hanya 8,74 ton. Dipersenjatai kanon 90 mm dan senapan mesin 7,62 mm. Keunggulannya dibanding PT-91 M hanya kecepatannya yang lebih tinggi mencapai 80 km/jam.

Soal proteksi, daya dobrak atau kekuatan tembak, jelas Scorpion sulit diadu dengan si Pendekar negeri Jiran.

Jika misal terjadi perang tank di perbatasan Kalimantan dan Sabah tentu tank Scorpion bukan tandingan PT-91.

Baru jika Indonesia memiliki tank kelas berat Leopard, pertempuran monster lapis baja ini bisa dimenangkan kavaleri TNI AD.

 
★ Merdeka  






In Developing Indonesia, the Best Offense Is a Formidable Defense




Dalam percakapannya dengan Jakarta Globe diterbitkan pada tanggal 18 Juni, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan bahwa "Indonesia menginginkan perdamaian, tetapi kami juga harus mempersiapkan diri untuk perang."

Hal ini tidak begitu jelas apa yang dia benar-benar sampai ketika dia mengatakan ini, tapi ketika seseorang mencoba untuk mengaitkan pernyataan dengan topik utama percakapan, dapat diasumsikan bahwa ia mengacu pada peran industri pertahanan Indonesia selama perdamaian sebagai juga di masa perang.

Berbeda dengan Amerika Serikat, di mana perdamaian dan perang industri pertahanan yang muncul adalah sebuah acara belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah republik Amerika (Perang Dingin AS-Soviet di akhir 1940-an dan Korea in1950 perang), munculnya sebagian besar perdamaian di Indonesia dan industri pertahanan perang tidak memiliki kaitan historis, sebagai Indonesia menikmati lingkungan eksternal relatif aman dan jauh dari yang terlibat dalam perang total melawan negara asing.

Namun, pencarian bagi Indonesia untuk mengembangkan industri pertahanan yang handal dan berkelanjutan untuk membantu Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebagai pengguna utama, untuk secara efektif membela negara dan meningkatkan kekuatan militernya, terinspirasi pemerintah untuk menempatkan investasi yang besar dalam nasional industri pertahanan untuk meng-upgrade persenjataan usang TNI.

Perkembangan yang signifikan dalam lingkungan strategis negara itu berfungsi sebagai dorongan bagi Indonesia untuk lebih mengembangkan industri pertahanannya. Tanda-tanda lebih lanjut baik untuk merevitalisasi industri pertahanan disertakan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 mengeluarkan keputusan untuk membentuk Komite Nasional Kebijakan Industri Pertahanan.

Kebijakan ke depan. Mereka menentukan hasil dan persyaratan yang hanya dapat dipastikan mengingat peristiwa yang belum terjadi. Indonesia belum mengalami peristiwa serius, setidaknya seperti yang terlihat oleh pemerintah, yang dapat dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Namun, jalan terus-menerus dan konsisten terhadap Indonesia membuat industri pertahanan sebagai bagian dari elemen strategis dalam perencanaan pertahanan negara harus dianggap sebagai langkah-langkah kebijakan dalam persiapan negara untuk perang.

Saya ingat dengan jelas baik penilaian Mayjen Sonny ES Prasetyo (sekarang direktur jenderal strategi pertahanan di Departemen Pertahanan) selama sesi kelasnya di Universitas Pertahanan pada tahun 2012 bahwa tujuan utama bagi negara untuk memperoleh senjata modern dan canggih adalah untuk mempersiapkan perang.

Pernyataan Purnomo tampaknya kongruen dengan penilaian Sonny. Hal ini menunjukkan bahwa produk industri pertahanan masa damai berfungsi sebagai sarana tidak hanya untuk meningkatkan outlook pertahanan negara tetapi juga untuk meningkatkan fungsi jera peralatan militer utama. Perang, jika tidak terjadi, akan melihat keandalan dan efektivitas produk industri pertahanan negara dalam mempertahankan kinerja dan daya tahan militer.

Komitmen pemerintah untuk merevitalisasi dan memobilisasi industri pertahanan adalah untuk gigi ke arah yang lebih mandiri ketergantungan pada produk dalam negeri. Sekitar 40 persen dari pengeluaran militer pemerintah diproyeksikan akan pergi ke industri dalam negeri. Namun bertumbuhnya saling ketergantungan dalam hubungan internasional karena gelombang globalisasi telah memaksa negara untuk mencari kemitraan strategis dengan negara-negara maju lebih dalam dunia industri pertahanan. Hal ini untuk mengatakan bahwa Indonesia perlu memiliki "tangan kedua" untuk meningkatkan industri pertahanan.

Hal ini untuk alasan ini Indonesia melakukan kerjasama dengan negara-negara tertentu di bidang industri pertahanan. Langkah-langkah kebijakan terbaru adalah upaya legislatif untuk meratifikasi perjanjian antara Indonesia dan Turki (ditandatangani pada bulan Juni 2010) pada kerjasama industri pertahanan. Ia selama dengar pendapat dengan para ahli bahwa saya menyarankan undang-undang tentang ratifikasi perjanjian didasarkan pada percaya bahwa Indonesia harus memperoleh manfaat lebih strategis dari perjanjian. Perjanjian tersebut, jika diterapkan, oleh karenanya harus bersiap Indonesia ke sejumlah positif daripada akhir zero sum.

Ketika Purnomo mengatakan bahwa Komite Kebijakan Industri Pertahanan (CDIP) mengidentifikasi kelemahan industri pertahanan dalam negeri, seperti yang dilaporkan oleh The Jakarta Globe pada tanggal 18 Juni - modal yaitu tidak cukup, kurangnya kompetisi, pengalaman minimal, pembatasan kemampuan penelitian dan pengembangan dan kurangnya sinergi antara industri yang berbeda - dia dapat menunjukkan bahwa Indonesia masih jauh dari mengembangkan apa yang disebut pertahanan basis industri (DIB).

DIB juga dikenal sebagai basis pertahanan industri dan teknologi. Untuk ilmuwan politik, DIB disebut sebagai aset industri pemerintah, yang mungkin memiliki kepentingan dan kontribusi langsung maupun tidak langsung untuk produksi massal peralatan untuk angkatan bersenjata negara itu. Hal ini untuk mengatakan bahwa jika Indonesia dapat mengembangkan basis industri pertahanan yang handal dan layak, ini pasti akan menjadi salah satu fitur utama dalam kebijakan pertahanan negara dan diplomasi. Namun, kita tidak tahu berapa tahun lagi Indonesia harus menunggu sebelum itu benar-benar dapat mengembangkan DIB. Jika akan berada di sana, seberapa siap adalah basis industri pertahanan Indonesia untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan TNI dalam beberapa dekade mendatang?

Berbicara pada soal industri pertahanan, salah satu ingat kertas konsep Malaysia di Asean Defense Industry Collaboration (ADIC). Makalah Konsep ini bertujuan untuk mengurangi impor pertahanan oleh anggota Asean dari $ 25 miliar per tahun menjadi $ 12,5 miliar. Pertemuan kelima Asean Defense Ministerial (ADMM), yang diselenggarakan di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, pada tanggal 7 Mei 2013, mengadopsi kertas.

Pertanyaannya adalah bagaimana bisa Indonesia menjadi bagian penting dari ADIC jika pemerintah gagal untuk mengatasi kelemahan industri pertahanan dalam negeri. Pemerintah perlu melakukan investasi yang signifikan untuk mengembangkan pertahanan basis industrinya. Hanya kemudian dapat memainkan peran strategis dalam ADIC atau menunjukkan industri pertahanan modern dan pentingnya industri pertahanan dalam meningkatkan persenjataan usang TNI.

Bantarto Bandoro is a senior lecturer at the faculty of defense strategy at Defense University and founder of the Institute for Defense and Strategic Research (IDSR) in Jakarta.


Posisi Indonesia dalam Konflik Laut Cina Selatan


RI di Konflik LCS

LCS:(DM) - BENARKAH Indonesia tidak ada sangkut paut apa pun dengan konflik Laut China Selatan (LCS)? Persoalan yang muncul dari jawaban Joko Widodo (Jokowi) pada debat capres (22/6), hingga detik ini masih menjadi perdebatan.

Secara spesifik, pro-kontra terbagi menjadi dua, apakah Indonesia tidak menjadi bagian dari konflik tersebut dan apakah harus berdiam diri melihat potensi konflik di wilayah ini. Persoalan ini perlu mendapat perhatian karena bisa menjadi indikator untuk mengukur sejauh mana calon pemimpin Indonesia berkomitmen menjaga kedaulatan NKRI dan memahami politik luar negeri.

Pembukaan UUD 1945 sudah secara tegas mengamanatkan: kepentingan nasional Indonesia adalah menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, keselamatan dan kehormatan bangsa, serta ikut secara aktif dalam usaha perdamaian dunia. 

Memaham konflik LCS memang tidak terlepas dari ambisi China membangkitkan kejayaan imperium masa lalu mereka. Kekuatan raksasa baru dunia tersebut mematok apa yang disebut China 9 dash line yang meliputi 90% area LCS.

Dalam konflik ini, seperti disampaikan Menlu Marty Natalegawa, Indonesia tidak punya kepentingan langsung karena memang tidak pernah bergesekan secara fisik dengan China seperti ditunjukkan Filipina untuk memperebutkan Scarborough Shoal dan Spratly Islands atau Vietnam untuk dalam sengketa Spratly Islands dan Paracel Islands.

Kepulauan Indonesia pun tidak ada yang masuk dalam klaim tumpang tindih seperti dialami Malaysia dan Brunei Darussalam di Spratly Islands. Bahkan, Kemenlu China sudah menegaskan bahwa Beijing tidak memiliki perselisihan dengan Jakarta.

Namun, kita tidak bisa menutup fakta ada irisan di wilayah ZEE. Persoalannya, diperut bumi di bawah laut ini tersimpan cadangan gas dan minyak terbesar di dunia. Berdasarkan data, di wilayah ini salah satunya terdapat blok gas dan minyak, Blok Natuna D-Alpha, yang menyimpan 500 juta barel. Total potensi gas bahkan diperkirakan mencapai 222 triliun kaki kubik.

Cadangan ini tidak akan habis dieksplorasi 30 tahun ke depan. Apakah China tidak tertarik dengan kue yang demikian menggiurkan? Apakahklaim LCS sebatas romantisme historis, tidak bermuatan politis dan ekonomis.

Fakta yang ada, Negeri Tirai Bambu itu sudah memasang rig pengeboran di kawasan yang diperebutkan dengan Vietnam dan sempat memicu gesekan. Karena itulah, seusai berkunjung ke Beijing, Agustus tahun lalu, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldokosecara lantang mengatakan, ”Kami adalah negara yang berdaulat, kami akan melindungi wilayah kami dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan kami.

”Secara konkret, TNI sudah membangun shelter Sukhoi di Lanud Ranai, Natuna dan sudah mengubah doktrinnya dari defensif-aktif menjadi defensif-ofensif. Sejauh ini, memang belum terlihat kasatmata akan pecah perang. Tapi lihatlah laporan IHS Jane, Asia-Pasifik adalah satu-satunya wilayah duniayang pengeluaran militernya terus tumbuhsejak2008.

Tentu saja salah satu hotspot-nya adalah kawasan LCS. Menteri Pertahanan AS Leon Panetta bahkan sudah secara gamblang mengisyaratkan negaranya akan menggeser 60% kekuatan militernya ke Asia-Pasifik mulai 2012 hingga 2020.

Kini pangkalan AS sudah tersebar di Pulau Diego Garcia, Christmas, Cocos, Darwin, Guam, Filipina, dan sangat mungkin terus berputar hingga Malaysia, Singapura, Vietnam, hingga Kepulauan Andaman dan Nicobar. Bukankah posisi kita berada di tengahnya?

Adapun China sudah mendapat lampu hijau membangun pangkalan aju di Timor Leste untuk armada lautnya dan sudah menjajaki medan Samudra Hindia di selatan Jawa. Dengan anggaran militer sangat besar dan terus meningkat rata-rata di atas 11%—pada 2014 ini mencapai sekitar USD131.5 miliar— tidak heran negeri tersebut kini mengebut membuat satu destroyer per tiga bulan hingga terwujud 12 unit DDG kelas 052D dan menambah dua kapal induk lagi dalam enam tahun ke depan.

Langkah ini dilakukan sebagai persiapan operasi tempur jarak jauh dan penguatan logistik. Diperkirakan pada 2020, China menjadi raksasa sesungguhnya. Di sinilah Indonesia harus memainkan perannya mewujudkan politik luar negeri bebas aktif untuk menciptakan perdamaian dunia.

Sebagai negara nonblok, sesepuh ASEAN, dan bemper di selatan LCS, Indonesia adalah satu-satunya negara yang bisa mencegah pecahnya perang yang konon bisa menjadi Perang Dunia III. Dengan demikian, presiden ke depan harus bisa juga menjadi pemimpin di level global. (SindoNews)





Merespons Sengketa Kawasan, Pertahanan NKRI Perlu ‘Short Sharp War’

Jakarta, JMOL ** Konsep perang yang disebut short sharp war yang menitikberatkan pada Control, Command, Communication, dan Intelligent (C3I), mutlak diperlukan dalam membangun kekuatan pertahanan negara. Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) tahun 2000, Laksamana (Purn) Achmad Sutjipto menegaskan hal tersebut saat ditemui JMOL beberapa waktu lalu.

“Skenario perang yang disebut dengan short sharp war, merupakan perang cepat untuk memukul musuh pertama kali dan harus menang. Perang pertama sangat menentukan, karena sehabis perang pertama pasti ada kekuatan ketiga yang melerai dan kita tidak malu. Jika kita menang maka akan berpengaruh pada perang-perang berikutnya,” ujar Achmad.

Lebih jauh, Achmad mengutarakan bahwa konsep short sharp war yang ditopang C3I akan terjadi di wilayah Indonesia, menghadapi memanasnya situasi kawasan. Sebagai contoh, adanya sengketa Laut Tiongkok Selatan yang sudah sangat nyata ada.

Maka dari itu, sudah sepantasnya Indonesia berbenah terhadap alutsista dan pemutakhiran sistem C3I untuk menghadapi short sharp war dalam waktu dekat.

“Modernisasi dalam hal Command, Control, Communication, Inteligent atau biasa disebut C3I sangat dibutuhkan yang up to date dan real time, dan itu akan mengkover seluruh ruang tempur atau battle space dalam upaya mempertahankan NKRI,” ucapnya.

Kritikan terhadap MEF

Bicara alutsista terkait juga dengan sarana pendukungnya dalam konteks C3I. Jadi, tidak dapat terlepas dengan Minimum Essensial Force (MEF) yang telah ditetapkan hingga 2024 selama tiga tahap.

“Apakah konsep MEF dirancang untuk short sharp war? Tidak. MEF hanya dirancang berdasar feeling the gap atau adanya kesenjangan kita dengan negara tetangga seperti kesenjangan ekonomi, kesenjangan teknologi, dan kesenjangan posisi,” tegasnya.

Pasalnya, dalam perjalanan MEF tahap I kurun waktu 2010-2014, Indonesia masih mengalami kebocoran potensi laut sebesar Rp 40 triliun per tahunnya. Sudah selayaknya pemimpin ke depan meninjau ulang MEF, apakah masih layak atau tidak.

“Saya yakin, kedua capres kita akan meninjau ulang lagi, karena yang namanya kebijakan itu harus dinamis dan fleksibel. Tidak boleh harga mati,” tuturnya.


Ia menambahkan, berubahnya kebijakan dapat terkait kondisi tertentu, misalnya keterkaitan keamanan kawasan di ASEAN dan meningkatnya perekonomian. Kedua hal itu dapat mengubah suatu kebijakan.

(Jurnal Maritim)